Kamis, 27 Okt 2016 | 14:01 WIB

Patriotisme, Harus Pada Tempatnya, Membaca Peta Ayat-ayat Jihad Pada Surat at Taubah

 

Oleh: H. Ziyad Ul Haq, SQ., MA (Kandidat Doktor bidang Tafsir di IIUM (International Islamic University Malaysia)

Surat At-Taubah, ayat-ayatnya kerap dikutip oleh individu atau kelompok tertentu, baik secara sepotong atau satu ayat penuh.

Ayat-ayat ini menjadi “tameng” pembenaran sikap anarkhis dan menebarkan teror (taakhwiif) terhadap kelompok lain yang dianggap berbeda, bahkan bertentangan dengan mereka.

Surat yang bernomor urut-9 dalam Alquran ini banyak memuat ayat tentang jihad Fi Sabilillah.

Selama ini bagi kita kesan jihad identik dengan kekerasan. Namun kekerasan yang dimaksud ialah sebagai objek atau akibat “korban”.

Nabi SAW dan para sahabat berperang sebagai langkah “pembelaan diri” atas serangan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir dan musyrik yang dengki dan menganggapnya musuh. Simak salah satu contoh ayat yang sering dibaca atau dipahami sepotong, QS. At Taubah (9) : 36 :

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya…”,

Seringkali (terjemahan) ayat yang di tebalkan tersebut dipahami sepotong dan dijadikan dalih untuk melakukan tindakan-tindakan politis yang bersifat anarkhis dengan mengesampingkan lanjutannya, “…sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.”. Melalui ayat ini secara utuh, hemat saya kekerasan dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan oleh agama kecuali sebagai langkah pembelaan diri.

Lalu, kekerasan balik yang dilakukan dalam rangka membela diri pun harus benar dan tepat sasaran. Dengan kata lain, hanya ditujukan kepada orang yang melakukan kekerasan kepada kita, bukan membabi buta, orang tak bersalah pun diserang. Hal ini juga sering menjadi materi “penyalahgunaan” pemahaman.

Merujuk pada salah satu ayat QS. At Taubah (9) : 3, “Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirikin…”.

Kata manusia (an Naas) dan dipertegas dengan kata orang-orang musyrikin (Al Musyrikiina ) dipahami oleh individu atau kelompok tertentu untuk mengorbankan individu atau kelompok lain yang dianggap musuh tanpa pandang bulu. Jikalau ayat ini dipahami secara utuh, maka tidaklah demikian. Simak lanjutan ayat yang sama.

”…Kemudian jika kamu (kaum musyirikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakan kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih. Dan simak pula, “Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At Taubah (9) : 5).

Dari lanjutan ayat tersebut diketahui bahwa langkah membabi buta dalam pembelaan diri tidaklah tepat. Bahkan, bila individu atau kelompok tertentu telah melakukan tindak kedzaliman kepada kita, sebagai pemeluk agama yang cinta damai, kita masih dituntut memaafkan kesalahan tersebut dengan tidak melakukan pembalasan sedikitpun.

Terlebih, bila kita lanjutkan dan baca ayat berikutnya, akan semakin jelas bahwa kekerasan (baca ; perang, teror, bom bunuh diri dsb) tidak ditujukan untuk mereka yang tidak berdosa. Yaitu, “…kecuali orang-orang musyirikin yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS.At Taubah ( 9)  : 4).

Bahkan, terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa kita diharuskan untuk tetap mengayomi dan melindungi hak-hak mereka. Hal ini terlihat jelas pada ayat berikutnya.   “Dan jika seseorang dari orang-orang musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS.At Taubah ( 9) :6)

Diakui, At Taubah banyak menyebut kata-kata yang mungkin bagi sebagian dari kita ngeri mendengarnya atau dahsyat membayangkannya. Misal QS. At Taubah (9) : 5,” Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian…”.

Dimaklumi pula bahwa surat ini merupakan satu-satunya surat Alquran yang paling banyak menyebut kata “jihad”. Wajar, bila Allah SWT melalui lisan Nabi SAW mengajarkan kepada kita agar tidak membaca atau mencantumkan lafal basmalah ketika membaca ayat dari surah yang bernama lain Al bara’ah tersebut.

Kalimat “bismillaahirrahmaanirrahiimi” merupakan simbol kasih sayang yang diajarkan oleh Allah SWT kepada hambaNya secara tersirat dalam Al Asma’ Al Husna (nama-nama-Nya yang terpuji).

Secara jelas dalam kalimat tersebut tercantum, Ar Rahman, yang Maha Pengasih dan Ar Rahiimi, yang Maha Penyayang. Dua sifat yang mau tidak mau harus ditanggalkan dalam kamus “perang”, karena perang hanya miliki dua kata, membunuh atau dibunuh.

Dalam memahami ayat-ayat jihad perlu dilakukan secara integral dan lengkap. Sebab pada perkembangannya, ayat-ayat tentang jihad banyak dipelintir untuk kepentingan-kepentingan sesaat yang sarat nuansa politis.

Oleh karenanya, dengan ruang yang sangat terbatas, perlu kiranya saya menjelaskan secara singkat peta ayat-ayat jihad secara kasuistik dengan mengambil satu surat Alquran At Taubah sebagai acuannya.

Sebenarnya, ayat perdana yang memperbolehkan Nabi SAW dan para sahabat berperang membela diri terletak pada surah Al Hajj (22) : 39 :

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu..

Ayat ini merupakan titik klimak setelah sekian lama Nabi SAW dan para sahabatnya dititahkan bersabar atas cercaan, hinaan, intimidasi, dan kekerasan serta perbuatan-perbuatan tidak manusiawi lainnya yang dilakukan oleh orang-orang kafir Makah.

Dalam ayat ini pula disebut alasan mengapa mereka diperbolehkan berperang. Ya, sebab mereka didzalimi dan dilanggar hak-haknya.

Selain sederetan perbuatan tidak manusiawi di atas, Alquran menyebut salah satunya pada lanjutan ayat 40, masih dalam surah yang sama, “(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata:”Rabb kami hanyalah Allah”…”.  Secara gamblang, ayat ini menyatakan alasan mendasar kenapa orang-orang yang memusuhi umat Islam melakukan perbuatan itu. Tidak lain, sebab mereka memproklamirkan keislaman mereka lewat ucapan kalimat Tauhid “Lailaaha Illallahu” (Tiada Tuhan selain Allah), bertentangan dengan apa yang selama ini diyakini oleh mereka serta nenek moyang mereka secara turun temurun.

Sketsa Ayat Jihad dalam Surat At-Taubah

Surat At Taubah sendiri turun 15 bulan sebelum Nabi SAW wafat pada tahun 632 H. Tepatnya setelah 22 tahun sejak wahyu pertama kali turun. Tak kurang dari 11  ayat dalam surah ini membicarakan tentang jihad dengan berbagai macam bentuk (akar kata).

Rinciannya : Jaahaduu (disebut 3 kali ; ayat 16, 20, 88), Jaahada (1 kali ; ayat 19), Jaahiduu (kata perintah jamak, 2 kali ; ayat  41, 86) An Yujahidu (2 kali, ayat 44, 81), Jaahid (kara perintah tunggal, 1 kali, 73), Jihaadin (1 kali, ayat 24) dan Juhdahum (1 kali, ayat 79).

Perlu diketahui, dari 11 kata jihad, 10 ayat secara langsung berhubungan dengan pembicaraan kita. 5 ayat diantaranya (ayat 20, 41, 44, 81, dan 88) selalu disertai dengan kata-kata “biamwaalikum wa anfusikum” (Dengan (sebagian) harta dan jiwa kalian). Hal ini menyiratkan akan makna yang luas dari kata jihad. Sebab, terjadi Taqdiim (pendahuluan) kata Amwaal (harta, jamak dari kata maal) dari kata Anfus (jiwa, jamak dari kata nafs).

Makna lainnya, jihad (baca ; perang (dan atau jihad dalam makna yang luas) tidak akan dapat dijalankan tanpa adanya cakupan dana (modal) yang memadai. Sedang satu ayat yakni 79 (kata juhdahum tidak berhubungan dengan pembahasan ini.

Secara bahasa, jihad berarti bersungguh-sungguh. Bila ditelusuri dari akar katanya, kata Jihad merupakan asal kata (Tsulasi) dari kata “Ijtahada”.

Dalam penggunaannya, kata yang terakhir ini lebih akrab di kalangan ulama fikih (baca : hukum). Sedang kata Jihad sendiri lebih banyak terucap oleh ulama-ulama yang menekuni dunia dakwah. Sekalipun, tidak dapat dipungkiri, jihad lebih luas cakupannya dilihat dari sisi manapun.

Dari sinilah makna jihad secara istilah banyak diperselisihkan berdasarkan penggunaan kata jihad dalam Alquran.

Ditilik dari segi bahasa, pada surah At Taubah sebenarnya ada sebuah ungkapan Alquran yang secara langsung dan tegas menunjuk makna jihad dalam arti perang (baca ; membunuh), yaitu Qaatiluu (perangilah atau bunuhlah).

Kalaupun digunakan kata jihad, selalu disertai dengan kata lain sebagai pendampingnya, sebutlah Biamwaalikum wa anfusikum (dengan (segenap) harta dan jiwa kalian), atau Infiruu Khifaafan wa tsiqaalan (berangkatlah kalian dalam keadaan ringan ataupun berat, ayat 41). Sekalipun dijumpai dalam banyak tempat terungkap secara gamblang misalnya Jaahidil Kuffaara Wal Munaafiqiina (berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka, ayat 73).

Dengan mempertimbangkan uraian di atas, jihad dapat didefinisikan secara umum, yakni perbuatan apapun yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT dan dalam arti khusus, yaitu tindakan membela diri dan membalas yang dilakukan dalam rangka menjaga dan meninggikan agama Allah SWT. Semoga uraian singkat ini bermanfaat.

 

 

 

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*