Selasa, 13 Des 2016 | 22:31 WIB

Muhammad, Kemajemukan, dan Ijmak Keindonesiaan

Oleh : H. Jaziul Fawaid, SQ,. MA
Ketua Kornas Nusantara Mengaji, Ketua Umum Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta.

 

Senin, 12 Desember bertepatan dengan 12 Rabiulawal 1438 H adalah momentum spesial bagi umat Islam di seluruh dunia. Betapa tidak di hari itulah kita laik menumpahkan segenap suka cita sebagai wujud atas telah dilahairkannya seorang utusan, panutan dan juga pembawa misi kenabian yaitu kanjeng Rosul Muhammad SAW.

Kelahiran Muhammad SAW yang lazim disebut dengan maulid nabi merupakan salah satu tonggak kita, umat muslim untuk selalu berinstropeksi diri, bermuhasabah dan selalu metani segenap perbuatan yang telah kita lakukan di muka bumi ini, perbuatan itu itu terutama terkait kesalahan-kesalahan yang terus membalut hari-hari kita dewasa ini.

Empat karakter

Sifat Muhammad SAW itu paten hierarki dan urutannya. Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh. Kejujuran menempati posisi pertama. Untuk menjadi manusia yang menusiawi, pertama kali yang harus dipenuhi adalah sifat kejujuran. Kejuejuran adalah pondasi utama dalam menjalani kehidupan.

Jika manusia sudah bisa mengamalkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, maka tahapan selanjutnya adalah amanah. Amanah adalah sikap untuk selalu bisa dipercaya. Jika dia diberi kepercayaan, maka dengan sepenuh hati dia akan menjaganya apapun risikonya. Dalam konteks kekinian, kita bisa mendapatkan banyak contoh bahwa sikap amanah ini sudah sangat jarang bisa ditemui. Sikap amanah menjadi semacam barang yang boleh dikatakan langka ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Jack Snyder (2000) mengatakan bahwa erosi amanah ini menjadi semakin mengkristal saat kehidupan memasuki dunia digital. Ada semacam distrust syndrome. Virus saling tidak percaya satu sama lainnya. Hal itu terbukti dengan banyaknya cacian dan makian yang meluber di media sosial. Bahkan pengguna media sosial sekarang sudah tidak mengenal lagi sopan santun, sehingga sebagaimana yang kita saksiskan dalam kejadian seorang anak muda mencaci maki ulama atau Kiai panutan.

Setelah manusia tersebut bisa diberi amanah, maka ia baru boleh untuk menjadi ‘penyampai’. Dia baru boleh menjadi juru dakwah. Dalam lanskap yang lebih luas makna penyampai atau tabligh ini bukan tersekat hanya sebatas soal agama saja, namun kecuali itu termasuk juga urusan-urusan kehidupan sehari-hari.

Jika orang sudah jujur, amanah, maka berita yang akan disampaikanpun tidak akan pernah ngawur dan mengandung unsur gosip apalagi kebohongan. Apa yang kita sebut sebagai berita hoax sesungguhnya tidak akan pernah terjadi jika kualifikasi manusianya adalah kaulaifikasi manusia yang memiliki karakter jujur, amanah, tabligh baru kemudian cerdas sebagai urutan terakhir.

Sekali lagi, manusia yang paripurna, dia harus jujur terlebih dahulu jujur baru kemudian dipungkasi dengan kecerdasan. Urutannya tegas. Jika kemudian terdapat seseorang yang mempunyai etos dan paradigma hidup yang terbalik semisal kecerdasannya didahulukan maka bisa dipastikan ia akan sulit untuk memenuhi nilai-nilai kejujuran. Kejujuran itu persoalan naluri hati, sedangkan kecerdasan adalah soal intelegensi, akal.

Konseptor Negara Majemuk

Al-Qur’an mengatakan innamal mu’minuna ihkwatun, faashlihu baina kahowaikum wattaqullah laallakum tattaqun. Sesungguhnya sesama mukmin adalah saudara. Maka saling berbuat baiklah diantara saudaramu dan bertaqwalah semiga kalian termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung.

Ayat di atas sangat relevan untuk dijadikan referensi bagaimana membangun kemajemukan menjadi sebuah energi untuk mencapai kemajuan bersama. Utamanya menyangkut konteks kebhinekaan Indonesia yang belakangan tak henti-hentinya dikoyak oleh usaha-usaha yang sistematis dan terstuktur.

Khalil Ahmad (1987) mengatakan bahwa ada tiga jenis persaudaraan. Pertama, ukhuwwah diniyyah atau ukhuwwah islamiyyah. Persauduaran yang menjadikan kepercayaan, keyakinan dan agama sebagai basis dari sikap dan tindakan kepada sesamanya.

Kedua, Ukhuwwah wathoniyyah. Persaudaraan kebangsaan. Persaudaraan jenis ini lebih mengedepankan nilai-nilai kebangsaan sebagai pijakan untuk bahu membahu dalam bersaudara. Dunia modern mengenal konsep ukhuwwah wathoniyyah sebagai nasionalisme. Rasa cinta kepada bangsa dan seganap unsur yang ada di dalamnya.

Ketiga, ukhuwwah insaniyyah. Persaduaraan kemanusiaan. Persaudaraan ini adalah persaudaraan yang paling mendasar. Sebab yang dijadikan landasan utama adalah kamanusiaan. Kemanusiaan atau humanity adalah nilai paling dasar yang dijadikan sebagai pijakan dalam setiap tindakan yang diambil.

Sangat penting untuk dikemukakan bahwa, meminjam Khalil Ahmad, sebetulanya jika ada yang mengatakan bahwa ukhuwwah insaniyyah itu sama dengan ukhuwwah basyariyah hal tersebut bisa dipastikan adalah kekeliruan dalam memehami sebuah konsep. Ukhuwwah insyaniayh itu lebih kepada sifat kemanusiaan, sedang ukhuwwah basyariah itu lebih didominasi oleh kesamaan kulit (ras). Ukhuwah basyariah diambil dari kata basyar yang artinya adalah kulit. Maka sama sekali beda antara ukhuwwah insyaniyyah dengan ukhuwwah basyariah.

Lalu bagaimana dengan Indonesia dewasa ini? Tenunan kebhinekaan bangsa kita beberapa kali, terancam terkoyak. Banyak pihak yang secara serius menginginkan agar Indonesia terpecah.

Namun kecuali itu semuanya, pada kenyataanya sampai saat ini kita masih bisa berdiri kokoh. Paersaudaraan sesama anak bangsa, terutama persaduaraan kemanusiaan, bisa berdiri di atas persaudaraan antar agama. Inilah resep rahasia tetap berdiri kokohnya NKRI. Dan hal itulah sesungguhnya yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW saat mendirikan negara Madinah.

Nabi Muhmmad tidak membangun fanatisme kasukuan. Nabi Muhammad tidak membangun fanatisme keyakinan. Namun, Nabi Muhammad membangun negara yang berlandaskan nilai-nilai kemanuisaan yang berdiri tegak di atas kemajemukan. Demikian pulalah seharusnya kita mengambil teladan agar tegak dalam ijmak keindonesiaan. Selamat Maulid Nabi Muahammad.

 

*Tulisan ini dimuat pada Koran Sindo, Selasa 13 Desember 2016

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*