Selasa, 20 Des 2016 | 13:26 WIB

Mensalatkan Alquran

Oleh :H. Deden Makhyaruddin, MA., Alhafidz
(Dosen Fakultas Usuluddin PTIQ Jakarta, Pengasuh PPTQ Al-Mustaqimiyyah, Bogor)

 

‎ فويل للمصلين الذين هم عن صلاتهم ساهون

Maka, kecelakaan bagi orang-orang yang shahat, yaitu mereka yang lupa dari shalatnya (QS al-Maun, 4-5)

Bukan rahasia betapa hafalan Alquran sangat mudah lupa. Hal ini seakan paradoks dengan empat ayat dalam surah al-Qamar, yaitu ayat 17, 22, 32, dan 40, yang secara umum difahami bahwa AlAlquran telah dimudahkan oleh Allah untuk dihafalkan. Namun, jika diamati lebih saksama, tampaknya, tersisa celah pemahaman yang belum terisi tentang pengertian al-dzikr pada surah alQamar di atas. Ia harus dibawa kepada pengertian yang sesuai dengan ‘Urf Alquran. Yakni, pengertian al-dzikr yang biasa dipergunakan Alquran. Maka, terjemehaman empat ayat surah al-Qamar di atas adalah: “Demi, sesungguhnya Kami telah memudahkan Alquran untuk (dijadikan) alDzikr…” Yakni, yang dimaksud dengannya bukan sekadar dihafal, diingat, atau dipelajari. Tapi mencakup pengertian al-dzikr seluruhnya. Oleh karenanya, keempat ayat tersebut ditutup dengan “…maka adakah yang menjadikannya dzikir?” Hal ini karena kunci kemudahannya, baik dalam hal menghafalkannya, membacanya, memahaminya, maupun mengamalkannya, adalah terletak pada dzikirnya.

Dalam Ulum Alquran dan Tafsir dijelaskan bahwa salah satu nama Alquran adalah al-dzikr. Imam al-Kisai dalam Ma’ani Alquran, ketika menafsirkan surah al-Anbiya ayat 2, di mana, di situ, Alquran disebut sebagai dzikr, berkata, dzikr dengan kasrah dzal adalah pekerjaan hati, yaitu ingat, lawanya lupa. Adapun yang mempunyai perngertian “menyebut” maka dibaca dengan dzammah dzal (dzukr), lawannya diam. Alquran adalah alat inti untuk mengingat Allah. Ibarat tali yang salah satu ujungnya ke dalam hati manusia dan yang satu lagi ke Allah. Ingat ayat ingat Allah. Lupa ayat lupa Allah. Ingat Allah ingat ayat. Lupa Allah lupa ayat. al-Dzikr adalah Alquran Hafalan (QS al-Hijr: 9). Orang yang hafal Alquran, selama Alquran ada di hatinya, maka, selama itu pula, hatinya terus bekerja mengingat Allah. Alquran di hatinya tercermin dari ucapannya dan perbuatannya. Indah dan mengagumkan. Ia melihat dengan mata Alquran, mendengar dengan telinga Alquran, mengenggam dengan tangan Alquran, melangkah dengan kaki Alquran, dan seterusnya.

Lalu, ada saatnya, dalam sehari semalam, hubungan manusia dengan Allah ditunaikan dalam ritual khusus, yaitu shalat. Minimal shalat yang lima waktu. Itu wajib. Tanpa shalat lima waktu, manusia kehilangan kontak dengan Allah. Total. Sampai dia kembali shalat. Apabila ditambah shalat sunnah, maka semakin dekat dengan Allah, bahkan bisa jadi seakan-akan Allah adalah dirinya. Dalam surah Thaha ayat 14, Allah berfirman: “… dirikanlah shalat untuk dzikir-Ku (mengingat-Ku).” Dalam surah al-Ankabut ayat 45, shalat disebut Dzikir Akbar. Allah Swt berfirman: “…dan sesungguhnya dzikir kepada Allah itu lebih besar.” Maksudnya shalat. Shalat tidak disebut Dzikir Akbar kecuali karena di dalamnya ada kewajiban membaca Alquran. Tanpanya, shalat tidak sah. Minimal al-Fatihah. Hal ini sebagaimana terbaca dalam penggalan pertama ayat 45 surah al-Ankabut: “Bacalah dari kitab yang diwahyukan kepadamu dan dirikanlah shalat…” Dalam surah al-Muzzammil ayat 20, perintah shalat diungkapkan dengan “Membaca Alquran.” Allah Swt berfirman: “…maka bacalah apa yang mudah dari Alquran.”

Yakni, shalatlah dengan kadar bacaan yang menurut kamu paling mudah. Para mufassir berbeda pendapat dalam menentukan kadar mudah ini. Ada yang mengatakan 100 ayat. Ada juga yang mengatakan surah al-Fatihah saja. Namun patokan yang sebenarnya adalah dzikirnya. Karena jika Alquran sudah menjadi dzikir, atau sudah menjadi sarana inti untuk mengingat Allah, maka berapa ayat pun akan mudah. Bahkan membaca satu Alquran pun sama mudahnya dengan membaca al-Fatihah. Inilah shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

Dalam surah al-Ma’un ayat 4 dan 5, Allah Swt mengancam orang-orang yang shalat, tapi mereka lupa dari shalatnya. Menurut salah satu penafsiran dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud lupa dari shalat adalah tidak khusuk. Yakni, lisannya membaca, tapi hatinya tidak sedang dalam bacaannya. Badannya ruku dan sujud tapi hatinya tidak ikut ruku dan sujud. Mereka adalah yang dimaksud generasi yang menyia-nyiakan shalat dalam surah Maryam ayat 59. Hal ini disebabkan, sebagaimana ditunjukan oleh mafhum mukhalafah dalam sebelumnya, yaitu ayat 58 surah Maryam, mereka tidak dzikir dalam shalatnya. Tidak hanyut dalam bacaan yang mereka baca atau yang mereka dengar. Padahal ayat serupa telah mendorong orang-orang selain mereka tersungkur sujud. Tak tertahankan. Generasi pengabai shalat ini adalah generasi yang dilukiskan dalam surah Thaha ayat 124 dan 125 sebagai orang yang akan diberikan kesempitan hidup dan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Mereka pula yang digambarkan dalam surah al-Ma’un ayat 1 sampai 3 sebagai pendusta Agama yang menghardik yatim dan tidak peduli dengan makan orang miskin. Mereka tidak shalat secara sosial.

Shalatkanlah Alquran, dan Qurankanlah shalat. Hafalan Alquran yang dishalatkan adalah hafalan yang mudah dan tidak lupa. Bagaimana akan lupa sementara hafalan tersebut diberi nama dzikir yang artinya ingat. Murojaah hafalan yang paling menguatkan hanya murojaah dalam shalat. Yang banyak shalatnya pasti banyak murojaahnya. Yang banyak murojaahnya pula pasti banyak shalatnya. Dalam hal ini surah al-Muzzammil ayat 4 menyarankan agar murojaah ditunaikan dan ditartilkan dalam shalat malam. Karena, selain hening, suasana malam lebih kuat untuk khusyuk, juga waktunya sangat lama. Bisa murojaah berjuz-juz. Ini shalatnya para penghafal Alquran. Rasulullah Saw bersabda:

‎ واذا قام صاحب القران فقرأه بالليل والنهار ذكره وأن لم يقم به نسيه

“…dan apabila penghafal Alquran bangun malam (murojaah dalam shalat malam), lalu membacanya siang dan malam, maka akan ingat. Dan jika tidak membawanya dalam shalat, maka akan lupa. (HR Muslim)

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*