Rabu, 23 Nov 2016 | 18:29 WIB

Menjadi Hamba yang Dicintai Allah dan Sesamanya

Oleh: Dr. H.A. Husnul Hakim IMZI, SQ. MA. (Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta, Pengasuh Pondok Pesantren eLSiQ (Lingkar Studi al-Qur’an)


Setiap manusia apapun profesinya dan latar belakangnya, pasti memiliki keinginan yang sama, yaitu dicintai oleh Allah juga dicintai sesama. Hal ini wajar, sebab setiap manusia tentunya tidak ingin hanya dicintai Allah tetapi orang lain membencinya. Bahkan, akan lebih tidak diinginkan oleh setiap muslim, jika sesamanya menyintainya tetapi Allah membecinya. Tentu saja ini lebih celaka lagi.

Melihat hal ini, maka untuk mencapai kecintaan keduanya, sebenarnya bisa dilihat dari posisi manusia itu sendiri. Bahwa setiap manusia pasti menyandang dua predikat, yaitu sebagai makhluk Allah dan sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang tidak memenuhi kebutuhan dan keinginannya tanpa adanya keterlibatan makhluk lain secara aktif, baik langsung maupun tidak langsung. Dua kenyataan ini tidak mungkin disangkal oleh siapapun, sehingga menjadi sangat wajar jika setiap manusia, apalagi orang muslim, ingin dicintai oleh Allah sebagai makhluk-Nya, sekaligus dicintai oleh sesama sebagai anak dari masyarakatnya.

Dari tesis ini, maka Islam sebagai agama terakhir dan kita yakini sebagai agama yang paling sempurna, telah memberi dukungan konkrit untuk mewujudkan kedua keinginan di atas. Dalam hal ini, Aquran menyatakan dengan pernyataan singkatnya: اقيموا الصلوة و آتوا الزكوة (dirikanlah shalat dan tunaikan zakat). Susunan ini banyak dijumpai di dalam Alquran yang dikaitkan dengan banyak hal. Hal ini bisa dipahami bahwa perangkaian keduanya seharusnya tidak hanya dipahami sebagai yang menunjukkan salah satu bentuk rukun Islam. Sebab, jika demikian, maka akan muncul pertanyaan, kenapa shalat dan  zakat? Kenapa tidak shalat dan puasa atau haji, atau puasa dan haji, misalnya. Padahal, semua rukun Islam memiliki posisi yang sama dalam konteks tegaknya agama.

Oleh sebab itu, perangkaian shalat dan zakat, jika dilihat dalam konteks posisi manusia sebagai makhluk Allah dan makhluk sosial, maka bisa diberi perspektif yang lebih luas namun proporsional. Yakni “mendirikan salat” bisa dipahami sebagai bentuk hubungan vertikal, antara manusia dengan Tuhannya, sedangkan “menunaikan zakat” sebagai manifestasi hubungan horizontal, antara manusia dengan sesamanya. Atau, bisa juga dipahami, shalat adalah cara yang paling utama bahkan satu-satunya bagi kita untuk membangun hubungan baik dengan sang Khaliq, Allah; Artinya, tidak ada hubungan baik yang bisa dibangun antara manusia dengan Allah, jika ia tidak shalat. Atau dengan kata lain, upaya manusia untuk membangun hubungan baik dengan Tuhannya akan dianggap tidak ada (muspra) jika tidak mendirikan shalat.

Sementara zakat, yang intinya adalah sama dengan infak dan shaladaqah yakni mengeluarkan harta, dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk membangun hubungan baik dengan sesamanya. Sebab, dengan begitu seseorang akan mengeluarkan sesuatu yang ia hasilkan sendir untuk orang lain.

Dengan demikian, ukuran kebaikan manusia tentunya harus dilihat dari dua sisi di atas. Ia tidak hanya diukur dari satu sisi semata, yakni hubungannya dengan Tuhannya, tetapi juga harus dilihat pada sisi lain, yakni hubungannya dengan sesamanya. Bahkan hubungan keduanya bisa dikatakan layaknya hubungan antara dua sisi dari satu mata uang. Hal ini bisa dijelaskan dari struktur kebahaan, bahwa keduanya digabung dengan huruf wawu yang dalam kaidah tafsir berfungsi untuk menggabungkan dua pernyataan atau lebih yag masing-masing memiliki kekuatan yang sama, atau tidak bisa saling dikalahkan. Dalam istilah Arab disebut li muthlaq al-jam’. Artinya, jika salah satunya negative, dan yang lain positif maka yang positif menjadi negative.

Jika diilustrasikan dengan dua sisi dari satu mata uang, maka sebuah mata uang akan dianggap asli jika kedua sisinya adalah asli. Namun, jika salah satuya palsu, maka uang tersebut dianggap palsu meski sisi satunya adalah asli. Yang palsu tidak bisa terangkat menjadi asli, justru yang asli menjadi turun statusnya menjadi palsu. Demikianlah hubungan antara mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Jika hubungan dengan Allah, yang ditunjukan dengan اقيموا الصلوة, adalah baik atau positif, sementara hubungan dengan sesamanya adalah negatif atau tidak baik, maka hubungan dengan Allah menjadi tidak punya nilai di hadapan Allah. Begitu juga, sebaliknya.

Hal ini bisa disimpulkan, jika ingin menjadi hamba Allah yang senantiasa dicintai baik oleh Allah maupun sesama manusia, maka caranya sudah cukup jelas, yakni dengan senantiasa mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Namun, ada pernyataan dari Rasulullah yang secara lahiriyah berbeda dengan pernyataan Aquran, yaitu:

ازهد فى الدنيا يحبك الله و ازهد فيما فى ايدى الناس يحبك الناس (رواه ابن ماجه)

Zuhudlah kamu dalam urusan dunia, niscaya kamu akan dicintai oleh Allah, dan zuhudlah kamu terhadap apa yang ada ditengah-tengah manusia, niscaya kamu dicintai oleh mereka (riwayat Ibn Majah)

Hadis di atas derajatnya adalah hasan (baik). Hadis ini muncul sebagai jawaban dari pertanyaan salah seorang sahabat kepada Rasulullah, “Ya Rasulallah, tunjukkan kepadaku suatu amal perbuatan, jika akau lakukan akan dicintai Allah dan sesamanya, lalu Nabi menjawab dengan jawaban di atas.

Yang dimaksud dengan zuhud dalam urusan dunia, sebagaimana disebutkan dalam kitab Jami’ Ulum wa al-Hikam (Ibn Rajab al-Hanbali) adalah jika kamu lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah dari apa yang ada di tanganmu. Penjelasan ini bisa dipahami, bahwa seseorang tidak mungkin melakukan hal-hal yang dicintai oleh jika eksistensi hidupnya disandarkan kepada apa yang dihasilkan oleh tangannya, dan kurang atau bahkan tidak yakin dengan jatah bagiannya yang ada di tangan Allah.

Sebagai contoh sederhananya, bagaimana mungkin ia senantiasa berlaku jujur dan adil, jika kejujuran dan keadilan itu ditakar dengan apa yang dihasilkan oleh tangannya. Sebab pada kenyataannya kejujuran dan keadilan tidak selalu berbanding kurus dengan keberhasilan duniawi. Meski ia tahu bahwa berlaku jujur dan adil adalah sikap yanbg dicintai oleh Allah, namun ia tidak cukup kuat untuk melakukannya karena ia lebih mempercayai apa yang ditangannya dari pada apa yang di tangan Allah.

Sementara yang dimaksud dengan zuhud terhadap apa yang ada di tengah-tengah manusia, secara sederhana bisa dipahami sikap tidak serakah atau berani dan siapp berkorban untuk orang lain. Siapapun pasti senang jika melihat seseorang yang tidak serakah dalam urusan duniawi. Bahkan, selalu siap untuk berbagi dengan sesame. Atau dengan istilah, jika anda ingin dicintai oleh sesama, maka jangan serakah dalam persoalan duniawi dan tumbuhkan kepedulian kepada sesamanya yang membutuhkan.

Jawaban Rasulullah di atas, yang pasti, secara tekstual berbeda dengan tolok ukur Alquran, yakni mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Namun, secara tersirat sesungguhnya kedua pernyataan di atas adalah saling melengkapi. Jika kita mencoba untuk mengkompromikan dua teks suci di atas. Maka, pernyataan Rasulullah, “zuhudlah kamu dalam urusan duniawi”, dengan mengacu kepada penjelasan di atas, maka ini bisa dipahami sebagai hasil dari mendirikan shalat. Artinya, jika ibadah shalat kita tidak melahirkan sikap mental, sebagaimana yang dijelaskan di atas, yakni lebih mempercayai apa yang di tangan Allah dari apa yang dihasilkannya, maka sungguh shalatnya tidak menghasilkan apa-apa dalam dirinya.

Atau dengan kata lain, jika ia tidak zuhud dalam urusan dunia, maka rasanya akan sangat sulit melakukan perbuatan atau aktifitas yang dicintai oleh Allah, sebagai tuntutan mendirikan shalat. Bahkan, boleh jadi, shalatnya menjadikan dirinya jauh dari Allah:

من لم تنهه صلاته عن الفحشاء و المنكر لم تزده من الله الا بعدا

Barangsiapa shalatnya tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar maka shalatnya tidak akan menambah dari Allah semakin jauh

 Sementara pernyataan zuhudlah terhadap apa-apa yang ada di tengah-tengah manusia, jika dikaitkan dengan menunaikan zakat, maka bisa dijelaskan bahwa seseorang tidak mungkin secara suka rela mau mengeluarkan zakat, –termasuk infak dan shadaqah–, jika ia memiliki sikap serakah atau tidak puas dengan apa yang ia peroleh. Atau dengan istilah lain, sesungguhnya perintah menunaikan zakat bukan sekedar aksi mengeluarkan harta lalu diberkan kepada orang lain, tetapi esensinya adalah untuk melawan sikap serakah yang terlahir dari kekikiran yang ada diri seseorang. Bahkan, meski ia mengeluarkan zakat dalam jumlah yang besar, namun tidak melahirkan sikap kedermawanan, alias serakah, maka sasaran zakat, infak dan sedekah itu sendir tidak akan tercapai, bahkan ia akan tetap dibenci oleh sesamanya. Wa Allahu a’lam

 

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*