Selasa, 8 Nov 2016 | 20:54 WIB

Menghadap Allah dengan Hati yang Senang

Oleh: Dr. H.A. Husnul Hakim IMZI, SQ. MA. (Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta, Pengasuh Pondok Pesantren eLSiQ (Lingkar Studi al-Qur’an)

 

“Dan Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yakni pada hari, dimana harta kekayaan dan anak keturunan tidak memberi kemanfaatan kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”(asy-Syuara/26: 86)

Ayat di atas merupakan rangkaian potongan do’a nabi Ibrahim. Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa hanya orang-orang yang memiliki kebersihan dan ketulusan hati saja yang bisa selamat di hari kebangkitan kelak, dan menghadap Allah dengan penuh kegembiraan.

Apa sebenarnya hati yang tulus dan bersih itu? Para mufasir klasik memahaminya sebagai hati yang tidak tercampuri oleh kemusyrikan. Juga ada yang memahami, hatinya orang mukmin. Oleh karena itu, dalam konteks akhlaq, maka hati yang bersih adalah rasa ketulusan ketika berhadapan dengan sesama muslim, menghilangkan prasangka buruk kepada sesamanya, dan berusaha untuk tidak menyakiti hatinya. Di sinilah bisa dilihat betapa Islam sangat memperhatikan tata pergaulan di antara sesamanya, bahkan pergaulan dalam arti yang sangat luas, yaitu ukhuwwah basyariyah.

Suatu ketika Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash merasa sangat penasaran terhadap seseorang yang dinyatakan oleh Rasulullah sebagai salah satu penghuni surga. Demi melihat amalan apa yang ia lakukan, Abdullah kemudian menemuinya dan bilang kepadanya bahwa dirinya telah bertengkar dengan ayahnya, dan tidak berani pulang. Lalu orang itu menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Terhadap tawaran tersebut, Abdullah tidak menyia-nyiakannya, karena dengan begitu ia akan bisa mengikuti terus dan melihatnya,  sebenarnya amalan apa yang telah dilakukan sehingga sedemikian istimewanya dirinya di mata Rasulullah, sekaligus ia akan berusaha untuk menirunya. Kurang lebih tiga hari, Abdullah menginap di rumahnya; akan tetapi Abdullah bin ‘Amr tidak melihat sesuatu yang istimewa dalam ibadahnya. Bahkan ia hampir-hampir meremehkan amalannya. Akhirnya, karena tidak tahan menahan gejolak hatinya, ia lantas berkata kepada lelaki tersebut:

“Wahai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Akan tetapi, aku mendengar Rasulullah SAW. berkata tentang dirimu sampai tiga kali: “Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga.” Aku ingin sekali melihat amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amalan yang sama aku dapat mencapai derajat sepertimu.”

Lalu orang itu menjawab: “Apa yang aku amalkan tidak lebih dari apa yang engkau saksikan.” Atas jawaban tersebut, Abdullah tidak bisa bertanya lagi dan bermaksud untuk mohon pamit. Ketika ia berpaling, lelaki itu memanggilnya dan berkata: “Demi Allah, apa yang aku amalkan tidak lebih dari apa yang engkau saksikan. Hanya saja, aku tidak pernah menyimpan niyat yang buruk terhadap kaum muslim dan aku tidak pernah dengki dengan kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.” Abdullah benar-benar terperanjat sekaligus tertegun, seraya bergumam: “Sungguh pantas engkau mendapat kedudukan istimewa itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.”

Jawaban lelaki itu memang sepintas sangat sederhana, memberikan hati yang bersih dan tidak menyimpan prasangka buruk terhadap sesama muslim, tetapi justru amalan itulah yang seringkali sulit untuk kita wujudkan. Kita barangkali tidak merasa kesulitan untuk bangun malam, shalat tahajjud, shalat hajat, shalat tasbih, atau shalat-shalat sunnah lainnya. Bahkan dengan bacaan surat yang cukup panjang. Akan tetapi, betapa sulitnya kita menghilangkan prasangka buruk dan perasaan dengki kepada sesama muslim, hanya karena kita duga mereka tidak sepaham dengan kita. Hanya karena, kita pikir mereka berasal dari golongan yang berbeda dengan kita. Atau, hanya karena mereka memperoleh kelebihan dari Allah yang tidak kita miliki. Dalam riwayat yang lain, beliau menegaskan bahwa salah satu tanda orang yang beriman adalah mempunyai kecintaaan yang tulus kepada kaum muslimin.

Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, siapakah sebenarnya orang muslim itu? kemudian beliau menjawab: “Orang muslim adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya”

Nabi ternyata hanya memberikan jawaban yang boleh jadi, tidak mereka duga sebelumnya. Nabi memberikan jawaban yang cukup singkat tetapi justru mengandung makna yang cukup dalam. Artinya, ketika kita mengaku sebagai orang muslim, kita harus yakinkan kepada diri kita apakah keberadaan kita menjadikan orang lain merasa nyaman atau tidak. Atau, sebagai seorang muslim, harus selalu memastikan terhadap dirinya sendiri bahwa tidak ada orang lain yang merasa tersakiti atau tersinggung, baik oleh prilaku maupun perkataan kita.

Pada suatu hari ada seseorang mendatangi Rasulullah Saw. kemudian berkata: “Ya Rasulullah, ingin sekali aku pada hri kiyamat nanti dikumpulkan dalam cahaya. Lalu beliau menjawab: “Janganlah engkau menzalimi seorang pun. Engkau akan dikumpulkan di hari kiyamat nanti di dalam cahaya.” Rasulullah juga pernah bersabda: “Antara surga dan seorang hamba terdapat tujuh siksaan. Siksaan yang paling ringan adalah maut. Kemudian ditanyakan kepada beliau: “Ya Rasulullah, siksaan apa yang paling berat, beliau menjawab: “Yang paling berat adalah berdiri di hadapan Allah sementara orang yang kita zalimi bergantung di tangan kita mengadukan kezaliman yang pernah kita lakukan kepadanya.”

Wa Allahu A’lam bish-shawab

 

 

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*