Kamis, 17 Nov 2016 | 12:40 WIB

Mengambil Hikmah Dari Kasus Ahok

oleh: H. Jazilul Fawaid, SQ., MA
Koordinator Nasional Nusantara Mengaji

Pepatah lama mengatakan: mulutmu harimaumu. Sungguh, pepatah itu benar sekali. Mulut adalah kunci keselamatan. Di mulutlah jaminan keselamatan seseorang digantungkan.

Syaikh Ihsan dari Jampes Kediri dalam kitabnya Sirojut Tholibin berujar bahwa mulut adalah sumber segala persoalan. Dari mulutlah kerap kali masalah muncul dan timbul tenggelam. Tidak jarang mulut menjadi sumber pertikaian. Bahkan kata-kata bijak lama yang sangat masyhur mengatakan bahwa manusia butuh waktu hanya dua tahun untuk belajar bicara, namun ia butuh waktu seumur hidup untuk belajar diam. Artinya, pekerjaan mengendalikan mulut adalah pekerjaan yang pembelajarannya ditempuh sepanjang hayat.

Peristiwa di Kepulauan Seribu yang melibatkan Basuki Thahaja Purnama kemudian menjadi polemik dan perdebatan yang luar biasa. Kita bisa menyaksikan bahwa akibat perkataan yang tidak lebih dari beberapa baris kalimat itu, memantik ratusan ribu, bahkan jutaan umat tergerak mengadakan aksi dan unjuk rasa atas nama gerakan pengawal fatwa MUI. Ahok memang sudah diputuskan menjadi tersangka hari ini. Namun, bukan berarti persoalan kita selesai dan teratasi. Sebab sebagai kaum beragama yang baik, tindakan paling bijaksana bagi kita hendaknya selalu bisa mengambil pelajaran atau ibroh dari sebuah peristiwa, apapun itu bentuknya.

Al-Quran mengatakan “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan…” (Al-An’am: 108).

Ayat tersebut sangat gamblang berbicara soal batas-batas wilayah toleransi antar umat beragama. Sebagai hamba yang beragama, sudah semestinya kita tidak saling mengusik dan mencampuri wilayah akidah pemeluk keyakinan atau agama lain. Penyebabnya jelas, wilayah tersebut adalah, dalam bahasa psikologi, disebut sebagai “dark area” wilayah gelap yang hanya diketahui oleh pemeluknya masing-masing.

Saya memandang bahwa apa yang dilakukan Basuki Thahaja Purnama (Ahok), jikapun ia memang keseleo lidah, namun telah melanggar teritori atau kewilayahan sebagaimana yang digariskan dalam Al-An’am 108 di atas. Saudara Ahok lebih jauh malah berani mengatakan menggunakan bahasa yang dalam pandangan saya bersifat peyoratif dan merendahkan. Kalimat “dibohongi pakai”, yang kemudian menjadi polemik, adalah kalimat pejoratif dan merendahkan. Bagaimana mungkin ayat suci dijadikan alat? Alat pembohongan lagi. Kontan pernyataan ini menjadi pemantik reaksi umat Islam.

Terlebih, konteks kalimat tersebut diucapkan oleh Ahok tatkala ia ‘berpidato politik’. Artinya Ahok sedang berbicara dan mempromosikan programnya agar dipilih kembali di kontestasi pilkada DKI yang akan datang. Ini indikasi jelas bahwa Ahok saat itu sedang membuat strategi “Bollywood”. Startegi yang menempatkan dirinya sebagai lakon sebagaimana di film-film India yang identik dengan perlakukan dizalimi, diolok-olok, dan disakiti sehingga menguras air mata penonton. Pada posisi inilah, dalam pandangan saya, Ahok ingin memosisikan dirinya. Ia ingin mencitrakan bahwa ia dizalimi oleh mereka yang menggunakan ayat sebagai alat. Alur logika yang sangat rentan terjerumus kepada kesalahan tindakan.

Dalam hemat saya, setidaknya ada tiga hal yang bisa dipetik pelajaran dari persitiwa dan kasus Ahok ini. Pertama, seorang pemimpin sudah seharusnya tidak mengeluarkan perkataan-perkataan yang kasar, kotor, dan cenderung tidak mengindahkan etika. Perkataan-perkataan umpatan adalah perkataan yang menusuk. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mengelaboriskan kesantunan ucapan dengan ketegasan dalam bertindak. Pemimpin yang tegas jikapun ia tidak santun yang terjadi adalah kesalahpahaman atau bahkan perpecahan.

Banyak tayangan video yang menayangkan seorang Ibu tua dicaci maki tatkala mengurus BPJS. Saya membayangkan, jikapun katakanlah Ibu tersebut pada posisi yang salah, namun yang penting dicatat bahwa rakyat adalah pemilik negara dan pemerintah adalah aparatus yang bekerja untuk mereka. Maka sangat wajar jika Ibu tersebut sangat tertusuk hatinya. Menangis atau bahkan meraung-marung meratapi nasibnya. Jika pun ia salah, hendaknya dilursukan dengan baik-baik. Sebagimana Nabi Muhammad yang tidak pernah memaki umatnya meskipun umatnya kedapatan telah melakukan kesalahan.

Kedua, Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Supremasi hukum harus menjadi platform. Meminjam bahasa Agus Rahardjo (2016), hukum harus tajam ke atas dan ke bawah demi terciptanya ‘peradaban hukum yang baik’. Peradaban hukum dalam pandangan saya adalah sebuah prasyarat untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi yakni ‘peradaban akhlak’.

Kelak jika kesadaran akhlak kita sudah tinggi, maka kita akan bisa melompat dari sekedar menjalankan hukum secara normatif kepada pelaksanaan akhlak yang substantif sehingga keadilan sosial benar-benar tercapai.

Keadilan itu penting diteggakkan. Sebab dari keadilanlah kamakmuran akan tercapai. Tanpa keadilan mustahil kemakmuran bisa dicapai. Makanya jelas, orang-orang tua kita selalu mengatakan “adil-makmur”. Adil-Makmur adalah tahapan yang susunannya tidak bisa dibalik. Kemakmuran tecapai jika keadilan ditegakkan di manapun bumi dipijak.

Ketiga, Rakyat Indonesia, khusunya Umat Islam, terbukti sudah bisa berdemokrasi dengan baik. Berjuta-juta umat yang melakukan aksi, sebagaimana banyak kita saksikan, sama sekali tidak berbuat anarkis. Aksi terbukti damai. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bahwa umat Islam di Indonesia sudah bisa bersikap dewasa. Sikap ini, ke depan harus dipertahankan dan dikembangkan agar cita-cita sebagai kiblat peradaban dunia bisa mewujud dan menjadi nyata.

Akhirnya, Ahok memberi pelajaran bagi kita bersama bahwa arogansi adalah sikap yang sangat berbahaya. sebaliknya tepo sliro dan tenggang rasa adalah kunci kerukunan bersama.

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*