Senin, 14 Nov 2016 | 17:48 WIB

Memaknai Sukses dan Cara Meraihnya

 

Pengertian sukses banyak ragamnya. kala kita di tanya apa sukses itu, jawaban pun seperti ini; sukses adalah keberhasilan, sukses adalah tercapainya tujuan, sukses itu adalah prestasi, sukses itu macam-macam.

Jawaban-jawaban itu patut kita berikan apresiasi. Pengertian tersebut di atas bukanlah kekeliruan. Yang keliru itu adalah tiadanya jawaban.

Lanjut. Apa yang dimaksud orang sukses itu? Jawaban pun kembali beragam. Sekali lagi, jawaban-jawaban yang muncul dari pembaca tidak ada yang keliru. Hanya saja, mungkin belum optimal.

Suatu contoh, bagi kita yang pernah merasakan kesulitan ekonomi, maka jawaban yang muncul “sukses sama dengan banyak uang, alias kaya”. Memang pengertian ini nampaknya kurang bisa diterima oleh beberapa kalangan. Tentu kalangan dimaksud mereka yang cukup secara materi atau sudut pandang agama.

Meski demikian, kita patut mencermati ayat ke-155 surah al-Baqarah yang menandakan adanya kecenderungan karakter manusia akan cobaan meraih harta dan kekayaan. (Artinya)“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Ayat tersebut;  “pada dasarnya” menegaskan bahwa keinginan manusia akan dirinya adalah melekatnya ketenangan dalam diri (rasa aman), kenyang, dan banyak harta. Ayat ini menunjukkan kebutuhan dasar manusia akan kesejahteraan dan kemakmuran, lahir dan batin.

Lalu bila dikaji dengan makna terbalik dan banyak kita temukan dalam realitas, justru cobaan (fitnah), tantangan dan rintangan itu berawal dari keinginan semacam itu. Bila ada sesuatu yang kita inginkan, maka cobaan yang menerpapun takkan jauh dari hal yang kita inginkan itu. Biasanya cobaan berangkat dari dua kutub yang saling bertolak belakang, antara keinginan dan keadaan yang harus dicapai. Jika kita ingin sejahtera secara ekonomi, maka cobaannya adalah sulitnya ekonomi; sulit mengais materi, dan paling tidak harus bersusah payah mendapatkannya. Bait syair lagu Iwan Fals, “Keinginan adalah awal dari penderitaan”.

Demikian bukanlah perkara buruk. Kenyataan hidup ini memanglah demikian. Yang perlu kita antisipasi adalah jangan sampai cobaan itu menjadi petaka. Biasanya petaka itu akibat dari kita yang kurang tepat dalam memaknai sukses itu apa dan cara meraih sukses itu bagaimana.

Katakanlah Sukses itu berhasil mencapai tujuan. Namun ia menjadi cobaan bila cara pencapaian sukses adalah berhasil dengan cara apapun, termasuk merugikan pihak lain. Parahnya lagi, tujuannya bersenang-senang yang berlebihan. Cara seperti ini tentu kurang tepat, untuk tidak mengatakan keliru. Cara demikian juga tidak dibenarkan menurut nilai agama. Karena itu, untuk menghindari petaka ini, sebaiknya kita menggali konsep-konsep jitu yang berkaitan dengan yang namanya sukses.

Sahabat Nusantara Mengaji, ada satu pandangan menarik tentang sukses hidup. Sukses adalah kemanfaatan dari proses, meski hasilnya adalah kekayaaan materi. Dan kekayaan itu bukanlah tujuan, karena tujuan adalah manfaatnya kekayaan.

Sukses itu adalah menebar manfaat. Setiap hari menebar manfaat, karena manfaat adalah akar kepercayaan. Kepercayaan adalah akar kepemimpinan, dan kepemimpinan adalah cara mengendalikan orang lain (hal positif). Sebagai catatan, bila kita secara konsisten senantiasa fokus pada manfaat untuk orang lain, maka setiap hari itu pula kita akan menerima ganjaran dan semoga ridla Allah ikut di dalamnya.

Pendapat seperti ini dapat kita katakan sebagai satu tawaran yang melegakan. Namun, pendapat ini perlu dikembangkan menjadi pengertian yang lebih elegan, yaitu sukses adalah berhasil meraih kebahagiaan dan ketenangan batin.

Meski tawaran di atas terkesan sufistik, namun bukan berarti materi menghalangi seseorang mencapai makna sukses yang hakiki ini. Kenyataan, di antara kita ada yang merasakan kebahagiaan dan ketenangan batin adalah mereka yang kaya akan materi dan merasa tidak khawatir akan rasa takut, lapar dan menjadi miskin. Inilah yang kemudian dapat kita katakan, kekayaan mengandung nilai Barokah, Rahmat dan Ridla Allah Swt.

Barokah atau berkah artinya manfaat lebih yang bernilai ilahiyah (amal shaleh) untuk orang lain. Rahmat artinya kebaikan yang dimiliki, seperti kesehatan, jabatan, harta, dan lain-lain yang melahirkan kebaikan dan kasih sayang sesama manusia. Dan Ridla Allah artinya mendapatkan Cinta dari Allah Swt. Sehingga dapat kita katakan, sukses adalah tebar manfaat, meraihnya dengan kesabaran menuju kebahagiaan dan ketenangan batin. Sukses itu adalah Berkah, Rahmat dan Ridla Allah Swt. Semoga kita menjadi orang sukses. Amin. Semoga Bermanfaat. (Nusantara Mengaji)

 

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*