Rabu, 14 Des 2016 | 21:20 WIB

Maulid Nabi, Cinta Rasul SAW, dan Peradaban Dunia

Oleh : H. Jaziul Fawaid, SQ,. MA
Ketua Kornas Nusantara Mengaji, Ketua Umum Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta.

“Dan tak pernah kedua mataku melihat sekalipun
Sosok yang lebih baik dari Engkau
Figur yang lebih tampan dari Engkau
Yang pernah lahir dari rahim perempuan
Engkau tercipta bebas dari aib
Seolah Engkau lahir seperti apa yang Engkau inginkan”

Petikan bait syair di atas, adalah gubahan sang pujangga terkemuka yang hidup pada masa Rasulullah SAW yaitu Hasan bin Tsabit. Kekuatan cinta itulah yang menggerakkan hati, muara perasaan serupa cinta, suka, bahagia, dan segala dari seorang Hasan bin Tsabit, untuk menuliskan kalimat demi kalimat yang indah. Tentang Muhammad SAW.

Segudang syair pernah ditulis secara khusus oleh tokoh yang berasal dari Yaman itu, sebagai bentuk pujian, ekspresi ketakjuban, dan tentu kecintaan yang teramat besar terhadap Baginda Rasul SAW. Dialah satu-satunya tokoh yang bergelar “Syair ar-Rasul”, atau Pujangganya Rasulullah.

Kecintaan serupa juga lah yang menggetarkan hati paman Rasulullah, Abu Thalib, yang konon meski tak memeluk Islam hingga akhir hayatnya, begitu mengagumi dan memuja Rasulullah. Luapan kebahagian sang paman, membuncah, saat Muhammad, putra saudaranya, Abdullah itu, lahir ke dunia. Abu Thalib, benar-benar bersuka cita ketika Rasul lahir ke dunia.

Dia bersenandung bahagia, ”Dan putih, langit mendung pun cerah berkat cahaya wajahnya.” Tak hanya itu saja, ekspresi suka cita itu, dia manifestikan dengan berbagi kebahagian  kepada handai tolan, kerabat, dan segenap tetangga, ketika itu dengan menyembelih dua ekor kambing berkualitas super, ya untuk Muhammad SAW!

Pada abad ke-21, rasa cinta dan kerinduan terhadap sosok Rasul jualah yang menggerakkan sastrawan tersohor Mesir, Ahmad Syauqi, secara khusus menulis kalimat-kalimat indah menggambarkan kecintaannya terhadap sosok Rasulullah. Gubahan-gubahan puisinya itu terkodifikasikan dalam al-Hamaziyah an-Nabawiyyah. Perhatikan bagaimana Ahmad Syauqi, menyanjung dan menghormati peristiwa agung, kelahiran Muhammad SAW :

Sang penunjuk dilahirkan
Alam semestapun bersinar
Bibir zaman tersenyum
Alam ruh dan para malaikat di sekitarnya
Saling berbagi kabar gembira untuk agama dan dunia

Jutaan Muslim di dunia, hari ini, Senin (12/12)  bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1438 H, memeringati kelahiran Muhammad SAW ibn Abdullah, sosok yang oleh Michael H Hart diposisikan pada urutan teratas, dari deretan 100 nama tokoh yang paling berpengaruh di dunia, seperti yang ia tuangkan dalam karyanya “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”

Ada banyak alasan, mengapa Hurt berani mengambil keputusan itu, menyusul kontroversial yang muncul akibat pandangannya tersebut  di tengah-tengah publik internasional. Bagi Hurt, Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang berhasil mengelola dua urusan sekaligus, dunia dan akhirat. Keluhuran pekerti dan keagungan akhlak Rasul, dianggap lebih unggul, dengan beragam karakter dan kekhasannya, yang terepresentasikan dalam risalah Islam.

Kendati demikian, perlu kita sadari betul, bahwa cinta kita terhadap Muhammad SAW tak cukup dengan retorika belaka. Cinta hanya akan berwujud pepesan kosong, tanpa disertai aksi nyata. Dalam bahasa Imam Syafi’i, bukti kuat kecintaan seseorang itu mesti ditandakan dengan seberapa besar, dan seberapa jauhkah sang pecinta itu, mengikuti segala titah dan apa yang diperintahkan oleh sang kekasih.

Dalam banyak sabdanya, Rasul mengingatkan kepada umatnya, siapapun yang mengaku cinta kepadanya, hendaknya melakukan segala perintah dan menjauhi larangannnya. Cinta kepada Rasul, berarti harus pula ditandai dengan komitmen dan kontinuitas meneladani pribadi dan karakter luhur Rasulullah.

Pemaknaan yang benar atas rasa cinta terbukti mampu mengantarkan peradaban Islam hingga puncak kejayaannya. Pusat peradaban Islam di Kairo, Baghdad, Damaskus, Andalusia, Turki, dan Asia Tengah pada Abad Pertengahan, menorehkan capaian luar biasa di berbagai bidang. Ilmu pengetahuan, sains, politik, ekonomi, sastra, seni, dan bidang lainnya. Penyebaran Islam di berbagai belahan dunia mengalami akselesasi luar biasa, dari Afrika sampai Eropa.

Namun, kita sekarang dihadapkan situasi yang satu sisi bisa menguntungkan, namun di banyak sisi juga bisa menjerumuskan kita menuju titik nadir peradaban.

Kita hidup di era keterbukaan informasi yang kerap kali menafikan sekat-sekat budaya. Efek negatif kemajuan teknologi informasi mengikis budaya kesantunan, etika kesopanan yang merupakan karakter khas adat ketimuran kita.

Ketidaksiapan kita menghadapi era digital saat ini, juga bisa berakibat fatal pada kepedulian, dan keterikatan generasi sekarang, bahkan generasi mendatang terhadap perkara yang berbau transendental.

Bukan tidak mungkin, spiritualitas kian terdegradasi perlahan dari pribadi-pribadi generasi muda kita. Dan, gejala dan fenomena itu semakin tampak.

Di satu sisi, krisis keteladanan menghadapkan kita pada satu kenyataan pahit, yaitu krisis kepercayaan dalam tiap levelnya.

Terkikisnya spiritualitas itu pada akhirnya, mendasari beragam tindakan amoral, korupsi, ketidakadilan, dan problematika lain yang mendera bangsa kita saat ini.

Dalam konteks inilah, relevansi dan urgensi peringatan Maulid Nabi SAW itu berada. Subtansi dan esensi Maulid Nabi SAW adalah adalah manifestasi menghadirkan kecintaan kita terhadap Rasulullah dan akhirnya diharapkan mampu memantik spiritualitas dan religiusitas.

Ini adalah satu dari sekian media yang bisa dijadikan momentum membangkitkaan dan mengasah kembali rasa cinta terhadap junjungan kita, Muhammad SAW.

Bahkan seyogianya dijadikan sebagai energi positif, daya dorong, untuk mewujudkan peradaban yang unggul. Dunia Islam saat ini, membutuhkan penyegaran kembali kecintaan terhadap Baginda Rasul, menghidupkan kembali sirah, mengaktualisasikan, dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang diteladankan junjungan kita tersebut.

Nilai-nilai spiritualitas bagaimanapun, menurut pandangan sejarawan terkemuka Inggris, Arnold Toynbee, dalam bukunya A Study of History, adalah faktor penting pelestari peradaban.

Konstruksi sebuah bangsa dengan peradaban yang ada di dalamnya, tak ubahnya  istana pasir. Ia tak hanya rapuh, tetapi lebih dari itu, ia hanya menjadi tipuan belaka. Tampak kokoh dari luar, namun sisi internalnya sangat rentan.

Berkacalah pada sejarah, kata Ibnu Khaldun, bagaimana kejayaan Islam di Andalusia, Spanyol, runtuh dan hanya menyisakan gedung-gedung yang membisu.

Keruntuhan Islam di belahan Eropa itu menunjukkan kepada kita kohesi yang tak terpisahkan dan korelasi yang kuat antara peradaban dan spiritualitas yang bermuara pada akhlak, moralitas, dan etik.

Terakhir kali, marilah kita jadikan peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW kali ini, sebagai mementum kembali meneladani pribadi Rasul yang mulia dan agung lalu mengejewantahkannya dalam aksi-aksi nyata.

Agar umat Islam mampu menjadi apa yang disebut Alquran, sebagai umat terbaik sekaligus saksi dan pelaku aktif (syuhada) bagi terwujudnya peradaban yang gemilang. Bukan malah sebaliknya. Madad ya Rasulullah..

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*