Rabu, 30 Nov 2016 | 18:57 WIB

Keistimewaan Penghafal Alquran (Bagian 3 Tamat)

Oleh :H. Deden Makhyaruddin, MA., Alhafidz
(Dosen Fakultas Usuluddin PTIQ Jakarta, Pengasuh PPTQ Al-Mustaqimiyyah, Bogor)

 

3. Puncak Kekayaan

Rasulullah Saw. bersabada:

Alquran adalah kekayaan yang tiada miskin setelahnya, dan tiada kaya tanpanya.” (H.R. al-Baihaqi, al-Thabarani, Abu Ya‘la)

Kalau ditanya, siapakah yang paling kaya? Maka, jawabannya tak lain adalah orang yang di dalamnya tersimpan Alquran. Andai seseorang kehilangan dunia dan seisinya tapi punya Alquran maka sebenarnya dia belum kehilangan apa-apa. Sebaliknya, jika seseorang mendapatkan dunia dan seisinya tapi tidak punya Alquran maka sesungguhnya dia telah kehilangan segalanya.

Dikisahkan, dalam kitab Ihyâ ‘Ulûmiddîn, seorang penghafal Alquran yang mengeluhkan kesusahan hidup dan sempit rizki. Dia keluhkan hidupnya kepada Allah. Suatu malam dia bermimpi mendengar suara: “Akan kuberikan seribu dinar namun kucabut surah al-An‘am dari hatimu. Dia menjawab: “Tidak.” “Bagaimana kalau surah Hûd?” Dia menjawab: “Tidak.” “Bagaimana kalau surah Yûsuf?” Dia menjawab: “Tidak.” Suara tersebut terus menyebutkan sejumlah surah dan selalu dijawab “tidak.” “Bagaimana bisa kamu keluhkan kekurangan hidup sementara kamu punya seratus ribu dinar.” Pagi harinya, dia terlihat segar dan optimis. Ia sadar betapa kaya dirinya karena memiliki Alquran.

Alquran adalah nikmat yang paling besar. Seperti matahari, bulan, dan kehidupan. Tetapi, saking besarnya, banyak orang yang melupakannya, dan banyak yang tidak menyadarinya. Biasanya nikmat besar akan disadari keberadaanya, bahwa benar-benar besar, ketika suatu hari Allah merampasnya. Banyak orang yang sehat tidak merasakan nikmatnya sehat kecuali setelah sakit. Di gurun sahara, orang yang tengah kehausan dan kepanasan, membutuhkan air segar untuk menyelamatkan nyawanya. Saat itu, segelas air lebih mahal daripada kerajaan. Hanya segelas air.

Demikian pula Alquran karena sangat besar. Tidak banyak orang yang merasakannya padahal lebih besar wujudnya dari matahari dan bulan. Bulan lebih besar dari penciptaan manusia, lebih besar dari makhluk seluruhnya, dari air, dari udara, dari alam semesta. Melainkan hanya akan merasakan nikmatnya ketika sudah sakaratul maut dan tiada kesempatan untuk kembali lagi.

Allah punya sifat al-Rahman. Allah sebagai pemberi nikmat besar menyatakan dirinya sebagai al-Rahmân. Dan, nikmat terbesar dari al-Rahmân ini adalah ‘allama al-qur’ân, yaitu mengajarkan Alquran. Rahmat Allah terbesar adalah Alquran. Kalau manusia membutuhkan makan maka sebenarnya dia lebih membutuhkan Alquran. Alquran lebih dibutuhkan manusia daripada dirinya sendiri, dari minuman, makanan, api, air, tanah, kesehatan, dan segala yang dimiliki dan dipergunakannya. Satu-satunya alasan bahagia, maka, kalau Alquran sudah di tangan, di mata, di darah, dan di daging, maka, dunia dan isinya dapat ditaklukan, karena tiada kekayaan yang melebihinya.

Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa yang menghafal Alquran lalu menyangka orang lain (yang tidak hafal Alquran) telah diberikan yang lebih baik dari Alquran, maka sesungguhnya, dia telah mengagungkan apa yang dihinakan Allah dan telah menghinakan apa yang diagungkan Allah.” (H.R. al-Thabarni, al-Baihaqi)

Dalam Hadits Qudsi, Rasulullah Saw bersabda, bahwa Allah berfirman:

“Barang siapa yang tidak sempat berdzikir dan meminta kepadaku karena disibukkan oleh Alquran maka akan Kuberikan padanya yang terbaik dari yang diberikan kepada para peminta.” (H.R. al-Tirmidzi)

4. Pemberi Syafa’at di Akhirat

Rasulullah Saw bersabda:

“Hafalkan Alquran, karena Alquran akan datang pada Hari Kiamat memberikan syafa’at kepada para penghafalnya.”

 Ini yang paling penting. Akhirat. Semua rangkaian keistimewaannya para penghafal Alquran pada akhirnya tiada keistimewaan yang melebihi syafa’at pada Hari Kiamat. Pada hari itu harta tidak bisa menolong. Teman tidak dapat membantu. Anak buah, atasan, dan yang punya keluarga hebat tak lagi berguna. Semuanya sibuk memikirkan nasib masing-masing.

Ternyata penghafal Alquran tidak demikian. Alquran ­ akan melindunginya. Cahaya Alquran akan meneranginya. Mahkotanya lebih terang dari matahari. Semua orang takjub dan menginginkannya. Ketinggian surganya setinggi jumlah hafalannya. Mereka mereguk bahagia justru pada saat orang-orang mereguk siksa. Mereka tertawa dengan senangnya ketika orang lain menangis, menjerit, meminta pertolongan sementara tak seorangpun yang dapat menolong. Tidak ada sahabat sejati pada hari itu. Yang sejati hanya Alquran. Dia akan menemani sampai ke surga. Semakin hebat Alqurannya, semakin terang cahayanya.

Ada penghafal Alquran yang cahayanya hanya mampu menerangi dirinya. Lalu ada yang lebih terang sehingga bisa menerangi keluarganya. Ada yang lebih terang lagi sehingga bisa menerangi kampungnya. Dan ada yang lebih terang lagi sehingga bisa menerangi seluruh alam. Mereka adalah para penghafal Alquran yang sejati. Cahaya Alqurannya pun sejati. Inilah puncak kebahagiaan yang sebenarnya. (Tamat)

 

 

 

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*