Kamis, 24 Nov 2016 | 18:00 WIB

Keistimewaan Penghafal Alquran (bagian 2)

Oleh :H. Deden Makhyaruddin, MA., Alhafidz
(Dosen Fakultas Usuluddin PTIQ Jakarta, Pengasuh PPTQ Al-Mustaqimiyyah, Bogor)

 

Setelah disinggung pada artikel bagian pertama (bagian I)  bahwa penghafal Alquran akan disetarakan dengan para Nabi, kali ini artikel akan melanjutkan tenteng keistimewaan penghafal Alquran.

2.    Bersama Para Malaikat
Rasulullah Saw bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim (w. 261 H.). juga oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H.) dan lainnya dengan redaksi yang berbeda:

Yang hafal Alquran dengan mahir bersama para malaikat penulis wahyu, yang mulia lagi baik.

Ada sifat malaikat pada diri penghafal Alquran. Diberikan kemuliaan sebagaimana diberikan kepada malaikat. Dalam ayat-ayat Alquran, dijelaskan, malaikat adalah muqarrabûn, makhluk yang paling dekat dengan Allah. Mereka adalah pesuruh Allah.

Kemuliaan manusia diukur dari seberapa dekat posisinya dengan Allah sebagaimana malaikat, mulia karena dekat dengan Allah. Makhluk yang tidak pernah merasakan gelisah, sedih, dan terluka. Makhluk yang tidak akan pernah merasakan sulit, malas, dan bosan. Mereka tidak akan mampu bermaksiat kepada Allah. Mereka lumpuh bermaksiat kepada Allah padahal mereka sangat kuat. Bisa mengangkat gunung, membalikan alam semesta, dan memadamkan matahari, dengan kekuatan yang diberikan Allah kepada mereka. Tetapi, kekuatan, daya, dan upaya mereka hilang ketika dihadapkan kepada maksiat. Mereka tidak bekerja kecuali semata-mata menjalankan perintah Allah.

Dalam surat al-Tahrîm ayat 6 dijelaskan, mereka tidak mendurhakai Allah dalam segala hal yang diperintahkan kepada mereka. Melainkan selalu mengerjakan dengan bersungguh-sungguh apa yang diperintahkan kepada mereka. Allah memilih malaikat untuk pesuruh-Nya, mengatur alam semesta, mengatur segalanya, termasuk mengatur penciptaan manusia.

Bahkan, proses pewahyuan dan penurunan Ayat-ayat Suci, termasuk Alquran ditugaskan kepada malaikat. Ini karena Alquran dan kitab-kitab Allah yang lainnya adalah suci sesuci zat-Nya. Dan tentu hanya bisa diaplikasikan oleh dan kepada makhluk-makhluk yang disucikan. Alquran bersifat spiritual. Tak sekedar kesucian lahir, tapi juga lebih kepada kesucian batin.

Dalam surat al-Wâqiah ayat 79, Allah berfirman:
“Tidak dapat menyentuh Alquran kecuali yang disucikan.”

Yakni para malaikat. Setiap huruf Alquran di Lauh Mahfuzh dijaga oleh para malaikat, dan di Baitul Izzah dijaga oleh malaikat. Proses penurunan pun dijaga dan dikawal oleh malaikat. Demikian pula, dihati manusia, dijaga oleh malaikat. Malaikat yang ditugaskan oleh Allah menjaga Alquran disebut malaikat Safarah, Kirâmin, Bararah.

Allah Swt. berfirman:
“Sekali kali tidak demikian. Sesungguhnya (ayat-ayat itu) adalah peringatan (pelajaran dan hafalan). Lalu, barangsiapa yang menginginkannya, maka silahkan jadikan dzikir (jadikan hafalan dan pengingat) dalam lembaran-lembaran yang disucikan, yang ditinggikan, dan dimuliakan, di tangan para malaikat safarah (penulis) yang mulia (kirâm), lagi baik (bararah)”. (Q.S. Abasa: 11-16)

Ketika ada manusia yang ikut terlibat di dalam menjaga Alquran, maka, berarti, manusia tersebut mengambil posisi malaikat yang  selalu patuh kepada Allah Swt. Hati, lidah, dan matanya suci sesuci malaikat. Sifat-sifat malaikat melekat padanya. Dia menjadi pesuruh Allah. Punya ucapan yang berbobot. Mulia dan murah hati semurah Alquran. Kuat punya posisi di sisi Allah. Berwibawa. Disegani dan ditaati, serta amanah, seamanah rûhul amîn, ruh yang amanah, yaitu malaikat Jibril, pimpinan para penjaga wahyu dan mediator langsung antara seorang rasul dan Allah. Inilah yang disebut dengan sabda Rasulullah Saw di atas bahwa, penghafal Alquran yang mahir bersama para malaikat Safarah Kirâmin Bararah.

Manusia yang hidupnya bersama malaikat akan selalu yakin kepada Allah. Hatinya suci selembut malaikat. Bahagia. Tidak dikalahkan kegelisahan, ketakutkan, dan kekalahan. Malaikat Allah akan selalu bersama mereka. Bahkan dalam kondisi perang sekalipun. Hati mereka tenang. Alquran yang membuat mereka tenang.

Suatu ketika, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H.) dari seorang sahabat bernama al-Barrâ bin ‘Âzib (w. 72 H.), seorang laki-laki membaca surah al-Kahfi. Di sampingnya, seokor kuda jantan diikat kuat. Tiba-tiba segumpal awan datang menaunginya. Kuda di samping berontak. Suasana menjadi teduh padahal hari sangat panas. Awan tak beranjak darinya sebelum tuntas membaca. Kemudian dia menanyakan kejadian tersebut kepada Rasulullah Saw. Beliau menjawab, bahwa, awan tersebut adalah ketenangan dari Allah yang turun karena Alquran.

Tidak ada pertempuran yang di dalamnya diikuti para penghafal Alquran kecuali para malaikat turun membantu mereka. Setiap kali Alquran dibacakan, pasti mereka hadir. Bagaimana hati yang di dalamnya ada Alquran tidak tenang sementara di sekelilingnya ada malaikat yang menjaga.

Dahulu, penampakan malaikat terjadi kepada para sahabat. Pada suatu malam, sebagaimana dalam Shahîh al-Bukhâri, seorang sahabat bernama Usaid bin Khudair membaca surah al-Baqarah di samping rumahnya. Usaid, sang jendral perang itu, sebelum membaca Alquran mengikatkan kudanya di dekat anak lelakinya yang masih kecil. Setiap kali Usaid membaca dan melanjutkan bacaan al-Baqarah, kudanya berontak seakan ketakutan melihat sesuatu. Berisik dan tidak diam. Lalu Usaid bin Khudair menghentikan bacaannya. Anehnya, setelah Usaid menghentikan bacaannya, kuda pun berhenti berontak. Tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Lalu Usaid melanjutkan lagi bacaannya dan kuda pun berontak lagi. Usaid khawatir anaknya tertendang kaki kuda lalu menghentikan lagi bacaannya. Kuda pun berhenti berontak. Karena kuda diam, Usaid pun melanjutkan lagi. Kemudian kuda berontak lagi.

Usaid yang keheranan segera mengambil anaknya, apapun yang terjadi. Usaid melihat ke atas langit, ternyata bintang-bintang seperti pelita bersinar terang di atas kepalanya seperti pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Usaid sadar ternyata kudanya berontak karena fenomena itu. Esok harinya, Usaid menanyakan pengalamannya kepada Rasulullah Saw. Kata beliau, “…yang kamu lihat adalah para malaikat yang menampakan diri karena bacaan al-Baqarah-mu. Seandainya kamu tidak menghentikan bacaanmu sampai pagi maka orang-orang akan melihatnya telanjang mata.” Demikian malaikat yang berjalan di muka bumi, penghafal Alquran. (Bersambung ke bagian 3)

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*