Rabu, 7 Des 2016 | 15:33 WIB

Kedepankan Sikap Tabayun

Oleh : H. Jaziul Fawaid, SQ,. MA
Ketua Kornas Nusantara Mengaji, Ketua Umum Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta.

Dekade ini, banyak orang menyebut sebagai era informasi dan telekomunikasi, di mana informasi datang silih berganti setiap menit, baik melalui media sosial, Instant Messenger,  atau portal berita online. Dari sekian info tersebut, tak sedikit yang menyajikan berita-berita konfrontatif dan mengabaikan kevalidan informasi.

Saat ini, media sosial sudah sedemikian berkuasanya. Media sosial efektif dalam menyebarkan berita. Media sosial juga efektif dalam memfragmentasi kutub-kutub manusia yang akhirnya terbagi menjadi haters dan lovers. Yang terkhir di sebut ini sesungguhnya yang sedang kita hadapi bersama. Kita menjadi masyarakat yang mudah tersulut emosi karena kita memiliki sedemikian keyakinan pada sesuatu: entah benda entah sosok yang sayangnya informasi tentang benda dan sosok tersebut kita dapatkan dari informasi yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Begitulah cara kerja alam bawah sadar haters dan lovers.

Al-Quran sudah sejak lama memberi semacam warning kepada kita agar tidak mudah terombang-ambing kabar burung yang tidak jelas sumbernya. Peringatan itu termaktub di surat Al-Hujurat ayat 6 yang berbunyi: Wahai orang-orang beriman, jika datang seorang fasik kepadamu membawa berita, maka tangguhkanlah (hingga kamu mengathui kbenarannya) agar tidak menyebabkan kaum berada dalam kebodohan sehingga kami menyesal terhadap apa yang kamu lakukan.

Ayat di atas selain sebagai warning atau peringatan, bisa juga dikategorikan sebagai semacam panduan untuk menerima informasi atau kabar. Kaitannya dengan persoalan penerimaan informasi dan kabar ini, penting untuk dikemukakan dewasa ini. Apalagi tahun-tahun ini kita telah memasuki apa yang diramalkan oleh Jean Couteu (2015) sebagai era “tsunami informasi”.

Informasi datang silih berganti setiap detik, setiap menit. Jika dulu banyak yang mengatakan bahwa orang pintar dan berwawasan adalah orang yang menguasai informasi, maka cara pandang seperti itu hari ini telah bergeser secara frontal dan terbalik bahwa manusia-manusia sekarang sudah terlampau dikuasai oleh informasi sehingga mudah terombang-ambing dan diperlalukan sesuai tujuan informasi tersebut dibuat.

Dari ayat Al-Hujurat 6 di atas manusia-manusia modern bisa belajar bagaimana caranya jika disuguhi informasi di hadapannya. Yang pertama kali dilakukan adalah bukan begitu saja percaya dengan informasi tersebut, namun terlebih dulu melakukan cek dan ricek. Memeriksa dan memverifikasinya sehingga mendapatkan kevalidan yang akurat.

Cek dan ricek serta verifikasi yang mendalam itulah dalam tradisi Islam dinamakan sebagai tabayun. Tabayun adalah metode yang digunakan untuk menelisik lebih dalam, memintai keterangan, menggali informasi sampai kepada sumber yang paling utama sehingga kita mendapat kebanaran yang bisa dipertanggungjawabkan.

Jika tabayun benar-benar diterapkan, maka kita tidak akan  mudah terombang-ambing isu atau bahkan berita yang kita kenal dengan hoax. Isu dan hoax belakangan ini menjadi alat yang sangat efektif untuk mengendalikan alam pikiran manusia. Banyak berita yang tidak jelas sumbernya.

Dalam konteks seperti ini, penting untuk menyinggung kembali ayat di atas.  Ibnu Katsir (1988) dalam tafsirnya berpendapat bahwa tatkala informasi tersebar dan tak ada proses tabayun, maka kita akan disetir oleh isu dan secara bersamaan akan menerima dua kerugian. Pertama terjerumus dalam jurang kebodohan dan ketidaktahuan. Kedua, masuk ke dalam lubang penyesalan sebab percaya kepada informasi yang tidak jelas sumbernya.

Di sanalah sesungguhnya tabayun itu penting untuk dilakukan. Di hadapan timbunan informasi yang sama sekali tidak terkendali seperti ini, sebagian orang menyebut hari ini sebagai era revolusi digital atau revolusi komunikasi, yang wajib dilakukan adalah mawas diri dan membentengi diri dengan yang paling utama dengan cara rajin-rajin dalam bertabayun.

Dari tabayun kita bisa mendapatkan setitik kejelasan dan kejernihan persoalan. Kita tidak terjerumus dalam lebirin ketidaktahuan yang mengakibatkan kebodohan, kesalahan mengambil kesimpulan, dan pada akhirnya sampai pada kesalahan bertindak.

Dalam kondisi yang demikian ini, saya mengajak semuanya untuk lebih dewasa dalam menyikapi kabar dan informasi. Kita harus menjadi bangsa yang beradab dan memiliki cara-cara yang santun dalam menyelesaikan persoalan dan problem yang menimpa. Mari kedepankan sikap tabayun sebelum menarik kesimpulan atau bahkan bertindak.

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*