Kamis, 15 Sep 2016 | 23:37 WIB

Hijrah; Sabar dan Aksi Perubahan

Oleh : Firdaus MS

Proses ritual akbar baru saja kita lewati. Pesan haji dan perayaan Kurban di bulan Dzulhijjah ini adalah jalan menuju peradaban dan kemanusiaan.

Pesan kurban adalah ketaatan dan kepasrahan. Melepaskan ke-aku-an dari segala belenggu duniawi. Haji mengisyaratkan kekompakan, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, sebaliknya menjauhi kemufakatan dosa dan pelanggaran. Inilah potensi besar Dzulhijjah.

Sebentar lagi tahun baru Islam, 1 Muharram 1438 Hijriyyah. Bulan hijrah Nabi SAW, Mekkah-Madinah, menuju sistem masyarakat yang lebih baik. Fase ini berbekal potensi Dzulhijjah dalam menjalankan misi peradaban dan kemanusiaan.

Kata manusia di dalam Alquran adalah Basyar dan Insan (bentuk tunggal dari An Naas). Dua kata ini memiliki arti yang sama, tapi esensi yang berbeda.

Basyar adalah manusia secara biologis. Si Fulan yang terdiri dua pasang mata dan telinga, dua pasang tangan dan kaki, termasuk nafsu dan birahi. Sedangkan Insan adalah manusia biologis yang terdiri dari akal dan ruh.

Bila manusia hidup hanya memenuhi kebutuhan biologis dialah Basyar. Sedang manusia dengan tiga unsur tadi dialah Insan. Insan inilah yang disebut khalifah.

Basyarkah kita, Insankah kita? Tunggu dulu. Ayat kedua dan ketiga surat Al ‘Ashr (103) mengingatkan fungsi dari potensi insan/khalifah.

“Demi Masa. Sesungguhnya insan itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al Ashr (103) : 1-3).”

Pesan ayat di atas adalah dua sisi yang harus dimiliki manusia agar tidak merugi,  vertikal dan horizontal. Iman dan amal shaleh. Saling menasehati pada kebenaran dan saling menasehati supaya sabar.

Keindahan bahasa dari ayat tersebut menunjukkan bahwa sabar sesungguhnya termasuk dari bagian kebenaran. Jadi, salah satu komponen menuju kebenaran adalah sabar. (Ali Ash-Shabuni). Sabar sebagai iman dan amal shaleh. Sabar sebagai ruh dan aksi.

Saat mengalami musibah, baik langsung atau tidak langsung, bencana alam atau ekonomi sulit misalnya, sisi vertikal mendudukkan sabar sebagai sikap menghibur diri, biasanya kita selalu mengatakan; Allah beserta orang-orang yang sabar/orang-orang yang menahan diri, Innallaha Ma’a Ashabirin. Untuk itu bersabarlah. Cukup efektif.

Sedangkan sisi horizontal, kuat kaitannya dengan hal-hal teknis, maka sabar tidak hanya sikap dan cukup menghibur diri, tetapi dia menjadi tindakan, amal shaleh. Tidak hanya menahan diri dari tindakan tercela, tapi menahan diri untuk kuat melakukan perubahan yang lebih baik.

Ketimpangan sosial memang selalu menjadi keadaan yang sulit kita hindari. Ini semua muaranya dari manusia. Drama kemanusiaan berupa kekuatan versus kelemahan, kekuasaan versus yang tak kuasa. Tragedi basyariyah.

Sudah saatnya kita lagi-lagi bercermin kembali, siapapun kita, seperti apa cara berpikir kita, apapun status dan jabatan kita, apapun tugas dan tindakan kita, mari dudukkan sesuatu pada tempatnya, bersikaplah adil. Bersabarlah untuk dapat berbuat adil wahai yang sedang berkuasa. Lakukan aksi perubahan bagi yang tak kuasa. Bila kuasa dan tak kuasa sama-sama melakukan aksi perubahan, rangkaian menuju peradaban telah dimulai.

 

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*