Rabu, 7 Des 2016 | 18:27 WIB

Hadiah Terindah Bagi yang Mendahulukan Ridha Allah

Oleh: Ahmad Fauzi
Mahasiswa Istitut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta, Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Penerima Beasiswa Hafiz Berprestasi Nusantara Mengaji

 

“Sesungguhnya Allah menciptakan aku untuk orang yang mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsunya.” Bidadari Surga

Seringkali tanpa kita sadari, apa yang kita lakukan selama ini seringnya atas dasar keinginan belaka, untuk tidak mengatakan ikuti hawa nafsu. Ya, Ingin ini dan ingin itu. Alas an sederhana, di sanalah menurut kita tercapainya kepuasan.

Sementara bila kita melakukan sesuatu dengan mengharap ridha Allah semata, maka bukan saja kepuasan yang diperoleh, namun justru ganjaran dan semoga Ridla dan Rahmat-Nya .

Bagaimana cara agar perbuatan kita selalu atas dasar mengharap ridha Allah SWT semata? Maka satu kata kunci, yakni Cinta. Tidak lain kita harus mencintai Allah melebihi dari yang selain-Nya.

Menurut para Ulama, salah satu tanda cinta yang benar kepada Allah adalah tatkala kita harus memilih antara taat kepada Allah dan Rasul-Nya atau kepada selain kedua tersebut. Padahal sesungguhnya, mengutamakan ketaatan dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah di atas segala hal yang mengajak kepada kelezatan dunia yang menurut agama adalah kelezatan semu. Dalam hal ini Allah SWT berfirman yang artinya:

‘’Katakanlah, ‘Apabila bapak-bapakmu, anak keturunanmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.’’ (QS. At-Taubah[9] :24).

Siapa saja yang mendahulukan ketaatan kepada seseorang daripada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, atau mendahulukan perkataan seseorang dari pada perkataan Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (Hadits), atau mendahulukan ridha seseorang daripada ridha Allah dan Rasul-Nya, atau lebih mengutamakan rasa takut, harapan kepada seseorang dari rasa takut, harapan kepada Allah, atau mencintai seseorang melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, meskipun dia mengaku sebagai orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, Maka sungguh ungkapan itu hanyalah dusta belaka. Sebab hakikatnya, ia mendahulukan nafsu daripada ridha Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tatkala menciptakan surga ‘Adn, Allah memanggil Jibril, ’ Pergi dan lihatlah apa yang aku ciptakan untuk hamba dan para kekasih-Ku.’ Jibril pergi mengelilingi surga tersebut. Seorang bidadari cantik yang berasal dari salah satu gedung surga itu menyambut kedatangannya dengan baik.

Si bidadari tersenyum kepada Jibril, sehingga surga ‘Adn menjadi terang oleh sinar gigi-giginya. Lalu, Jibril tersungkur bersujud menyangka bahwa itu adalah cahaya Allah. Melihat Jibril tersungkur, bidadari tersebut berkata, ‘wahai kepercayaan Allah angkatlah kepalamu.’

‘’Jibril menatapnya dan berkata, ‘Maha Suci Dzat yang telah menciptakanmu.’ Bidadari tersebut berkata, ‘Wahai kepercayaan Allah, apakah engkau tahu untuk siapa aku diciptakan?’ Jibril menjawab, ‘Tidak.’ Bidadari itu lantas menjelaskan, ‘Sesungguhnya Allah menciptakan aku untuk orang yang mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsunya.’ (Lihat mawa’idzul ‘usfur Hadits 25).

Sangatlah jelas bahwa seseorang yang mendahulukan ridha Allah diatas segalanya, maka baginya lah surga berikut kenikmatannya. Di antara kenikmatan tersebut, “ Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan, dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik, sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Waqi’ah[56] :17-24).

Sebaliknya, bagi seseorang yang mengerjakan sesuatu menuruti hawa nafsunya dan tidak didasari untuk mengharap ridha Allah seperti ia mencintai seseorang bukan karena Allah akan tetapi hanya mengikuti nafsunya, maka perbuatan itu akan membawanya kepada kejahatan.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun lagi Maha Penyayang.’’ (QS. Yusuf[12] :53).

Semoga kita selalu diberi kekuatan oleh Allah untuk mengalahkan hawa nafsu atas perbuatan yang kita lakukan di dunia dan diberikan jalan untuk selalu mendahulukan Ridha-Nya semata. Amiin

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*